Tanda yang tetap terbaca, apa pun yang menimpanya
Gubah merancang identitas, sistem gerak, dan kemasan untuk usaha budaya dan konsumen. Setiap tanda kami uji di layar ponsel termurah, di stempel karet, dan di kain sebelum diserahkan.
Kenapa kami menguji tanda di api, air, dan cahaya
Sebuah logo jarang dilihat di layar presentasi. Ia dilihat di kantong kopi yang basah, di spanduk yang pudar setelah tiga bulan, di layar ponsel yang retak, dan di stempel yang tintanya hampir habis.
Jadi setiap tanda yang keluar dari Gubah melewati satu minggu ujian: dicetak di kertas daur ulang, dicap dengan stempel karet, dijahit di kain, dikecilkan sampai 16 piksel, dan dibiarkan di bawah lampu jalan. Kalau ia tidak lagi terbaca di salah satunya, kami kembali ke kertas.
Itu sebabnya kami hanya menerima satu identitas baru setiap bulan.
Sejak 2016, dihitung dari arsip kami sendiri
Sebagian yang pernah bekerja bersama kami
Mereka datang ke percetakan kami jam enam pagi untuk cetak pertama kantong kopi, dan mengubah satu warna di tempat karena hasilnya terlalu gelap di kertas daur ulang.Wahyu Prasetyo, Kopi Gunung Kelir
Logo festival kami bisa bergerak dalam dua belas bentuk, dan anak SMK di Kotagede bisa membuat versinya sendiri dari panduan setebal sembilan halaman.Ratna Kusumawati, Festival Film Pelajar Kotagede
Huruf judul sanggar dibuat dari tulisan tangan Ibu Arum. Waktu beliau melihatnya di spanduk pentas, beliau tidak percaya itu tulisannya sendiri.Dewi Lestari, Sanggar Tari Arum Sari
Ceritakan proyeknya, kami jawab dalam dua hari kerja
Jalan Mondorakan 33, Kotagede, Yogyakarta
Senin sampai Jumat 10.00 sampai 18.00. Kunjungan studio dengan janji.